Selasa, 08 Juni 2021

Laporan Bacaan 3

 Laporan Bacaan: Manajemen Sekolah (Magang 1)

Oleh: Khovivah (11901284)

Kelas PAI 4B

Mahasiswi IAIN Pontianak

Bismillah, bacaan saya kali ini mengambil tema ‘Manajemen Sekolah’. Bacaan saya mengenai manajemen sekolah ini saya dapatkan disalah satu artikel disebuah situs web (kalian dapat mengakses artikel tersebut di link berikut ini: http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/edutech/article/view/578 ). Kata kunci pada artikel ini adalah manajemen berbasis sekolah.

Baiklah mari kita kulas terkait artikel Manajemen Berbasis Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Sekolah sebagai berikut.

Hakikatnya dari gerakan reformasi bangsa tentunya harus diikuti dengan reformasi Sumber Daya Manusianya juga. Pengembangan visi dan misi sebuah bangsa yang telah melakukan reformasi juga harus dilaksanakan. Namun, nyatanya modern ini banyaknya bangsa yang melakukan reformasi namun tidak merubah keadaan sejatinya di negara tersebut, kemiskinan dan kebodohan masih saja marak terjadi dewasa ini di sebuah bangsa yang telah melaksanakan reformasi tersebut.

Agar reformasi bangsa dapat dilaksanakan, tentulah dilakukan terlebih dahulu reformasi Sumber Daya Alam. Peningkatan SDM ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan taraf pendidikan di suatiu bangsa tersebut. Upaya peningkatan kualitas pendidikan tersebut haruslah mencakup semua jenjang pendidikan yang ada, mulai dari sekolah dasar hingga ke jenjang universitas. Tak hanya itu, peningkatan juga harus dilakukan dalam semua jalur pendidikan, dan berbagai jenis pendidikan yang terdapat di negarra tersebut. Banyak faktor yang terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan, salah satunya adalah faktor manajemen pendidikan, terutama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Dalam pengertiannya MBS, manajemen pendidikan tidak lagi bersifat pemusatan. Dalam pengertian MBS manajemen pendidikan memberikan otonomi yang luas pada unit sekolah itu sendiri dan juga MBS melibatkan masyarakat atau masyarakat ikut serta dalam memajukan sekolah. Dalam MBS peran serta masyarakat menjadi menonjol dalam hal musyawarah dengan pihak sekolah. Yang bisa dikatakan bahwa ketika pengambilan keputusan mengenai semua kebijakan dan program sekolah ditetapkan oleh kesepakatan oleh seluruh pihak terkait yang termasuk juga masyarakat sekitar sekolah tersebut.

Pada hakikatnya substansi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah, peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, dan peningkatan keluwesan sumber daya sekolah. Oleh sebab itu MBS ini bisa menerapkan suatu pendekatan idiografik (memperbolehkan adanya berbagai macam cara pelaksanaannya), sehingga tidak sama antara metode satu dengan yang lainnya di setiap sekolah. Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan bahwa perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah tidak menjadikan hasil akan selalu bagus. Akan tetapi akan memerlukan proses yang berlangsung cukup lama dan melibatkan semua pihak yang berkoordinasi dalam penyelenggaraan pendidikan persekolahan.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita rangkumkan terlebih dahulu mengenai istilah MBS. Istilah MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) merupakan terjemahan langsung dari School Based Management yang diartikan sebagai pendekatan yang dilakukan untuk mendesain ulang organisasi sekolah dengan memberikan kesempatan kepada partisipan sekolah yang berada dalam lingkungan sekolah guna memajukan sekolah. Yang termasuk kedalam partisipan sekolah meliputi kepala sekolah, guru, konselor, pengembang kurikulum, administrator, orang tua siswa, masyarakat sekitar, dan siswa. Mengutip pendapat dari salah satu ahli yakni Myers dan Stonehill mengemukakan bahwa MBS diartikan sebagai strategi untuk memperbaiki kualitas pendidikan dengan mentransfer otoritas pengambil keputusan dari organisasi sekolah kepada pihak orang tua siswa dan juga masyarakat sekitar sekolah untuk memiliki pengendali keputusan yang lebih besar tentang proses pendidikan dan memberikan mereka tanggung jawab terhadap dana, personel dan kurikulum.

Jadi menurut pendapat saya dapat disimpulkan bahwa MBS diartikan sebagai terobosan baru dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekolah, melalui adanya campur tangan langsung orang tua siswa dan juga masyarakat sekitar sekolah, yang menyebabkan lebih terbukanya atau adanya transparansi mengenai program sekolah dan juga pendanaan untuk meningkatkan kualitas sekolah tersebut. Tentunya hal ini sangat bermanfaat dan perlu direalisasikan secara menyeluruh dan bertahap dalam dunia pendidikan di Indonesia agar transparansi hal tersebut bisa membangun hubungan yang lebih baik antara orang tua siswa juga masyarakat dengan perangkat sekolah.

Terkait dengan pembentukan MBS ini ditujukan demi memajukan pendidikan di daerah yang belum terjamah oleh pemerintah pusat, jadi pihak sekolah dan masyarakat bisa melakukan peningkatan kualitas sekolah tanpa harus menunggu perintah dari pemerintah pusat, dapat mengembangkan visi sekolah yang sesuai dengan daerah sekolah tersebut dan melaksanakan visi sekolah tersebut secara mandiri.

Mengenai tujuan dari MBS ini dikutip dari beberapa pendapat ahli. Mengutip dari Supriono dan Sapari mengemukakan bahwa tujuan dari penerapan MBS sendiri adalah untuk meningkatkan efesiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah. Selanjutnya mengutip dari Nurkolis mengatakan bahwa tujuan dari penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik menyangkut kualitas pembelajaran, kualitas kurikulum, kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Berdasarkan dari pendapat beberapa ahli mengenai tujuan dari penerapan MBS, dapat disimpulkan bahwa tujuan umum dari MBS guna meningkatkan mutu pendidikan.

Berdasarkan pendataan Bank Dunia, kualitas persekolahan di Indonesia meliputi tiga kategori, 1) sekolah maju, 2) sekolah sedang, 3) sekolah kurang. Dari ketiga kualitas persekolahan tersebut terdapat tingkatan model manajemen berbasis sekolah yang dapat dilakukan, 1) sekolah yang dapat melaksanakan MBS secara total, 2) sekolah yang dapat melaksanakan MBS secara separuh (sedang), 3) sekolah yang dapat melaksanakan MBS secara minimal. Dari kondisi ini, maka pelaksanaan MBS di setiap sekolah tidaklah sama, tergantung pada sumber daya yang ada di sekolah tersebut. Oleh sebab itu, agar pelaksanaan MBS dapat dilaksanakan secara optimal dibutuhkannya strategi pengelompokkan yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan manajemen dari masing-masing sekolah. Untuk lebih detailnya mengenai pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Kemampuan Sekolah

Kepala Sekolah dan Guru

Partisipasi Masyarakat

Pendapatan Daerah dan Orang Tua

Anggaran Sekolah

Manajemen Tinggi

Berkompetensi tinggi (termasuk kepemimpinan)

Tinggi (termasuk dukungan dana)

Tinggi

Besar

Manajemen Sedang

Berkompetensi sedang (termasuk kepemimpinan)

Sedang (termasuk dukungan dana)

Sedang

Sedang

Manajemen Rendah

Berkompetensi rendah (termasuk kepemimpinan)

Rendah (termasuk dukungan dana)

Rendah

Kecil atau tidak ada

 

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan untuk pelaksanaan MBS di setiap sekolah pasti berbeda. Perbedaan kemampuan setiap sekolah yang berbeda mengharuskan perlakuan yang berbeda dalam pelaksanaan MBS guna menerima paradigma baru dalam pendidikan. Dalam pengorganisasian MBS diperlukan berbagai perangkat dan strategi. Mengenai perangkat dan strategi yang diperlukan dalam pelaksanaan MBS, dikutip dari salah satu pendapat ahli yakni Sagala. Sagala menyebutkan perangkat dan strategi yang dibutuhkan adalah a) melaksanakan program sekolah atas dasar visi dan misi yang konsisten terhadap tujuan dan target, b) memperluas mitra sekolah dengan sektor lain, seperti pemimpin masyarakat, dan LSM, c) mendefinisikan kembali hubungan antara mitra, d) tukar menukar pengalaman dan memperkuat jaringan antarsistem dan antar sekolah, e) memperjelas fungsi dan tugas setiap tingkat dan pelaku sistem, f) membuat batas-batas kewenangan dan akuntabilitas setiap pelaku, g) menciptakan perangkat-perangkat yang diperlukan, h) memenuhi kebutuhan informasi untuk sekolah, dan i) mendistribusikan kewenangan, tanggung jawab, dan sumber daya ke tingkat subordinasi. Sementara itu kelompok kerja MBS menurut Fasli dan Dedi Supriadi menyatakan diperlukan tiga tahapan dalam strategi pelaksanaan MBS yakni (a) strategi jangka pendek, (b) strategi jangka menengah, dan (c) strategi jangka panjang.

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai strategi pelaksanaan MBS, strategi yang sama tidak dapat dilakukan dengan semua sekolah, tetap tergantung pada sumber daya yang ada di sekitar sekolah tersebut. Namun pihak sekolah bisa memadukan berbagai strategi yang ada agar tercapainya tujuan memajukan pendidikan di sekolah.

Dalam pelaksanaan MBS diperlukan berbagai tahapan, maka Depdiknas melalui Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, telah mengeluarkan empat buah buku panduan mengenai tahapan pelaksanaan MBS. Pada buku satu dipaparkan Sembilan tahapan dalam pelaksanaan MBS yang bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi sekolah. Tahapan-tahapannya sebagai berikut.

1.      Tahap pertama yakni melakukan sosialisasi (memahami konsep MBS tentang ‘apa’, ‘mengapa’, dan ‘bagaimana’)

Ø  Memahami sistem, budaya, dan sumber daya yang ada di sekolah dan merefleksikannya apakah cocok untuk mendukung penyelenggaraan MBS.

Ø Mengidentifikasikan sistem, budaya, dan sumber daya yang perlu diperkuat dan yang perlu diubah untuk menyelenggarakan MBS

Ø Membuat komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggung jawab, jika terjadi perubahan sistem, budaya, dan sumber daya yang cukup mendasar.

2.      Tahap kedua yakni merumuskan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah (visi adalah pandangan jauh ke depan kemana sekolah akan dibawa, misi adalah tindakan untuk mewujudkan/merealisasikan visi, tujuan merupakan tahapan wujud sekolah menuju visi yang telah dicanangkan, sasaran adalah penjabaran tujuan, yaitu sesuatu yang dihasilkan sekolah dalam jangka waktu lebih singkat)

Ø  Penyusunan rencana pengembangan sekolah, melalui: a) penentuan program jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek, b) mengidentifikasi tantangan nyata sekolah, c) menentukan skala prioritas berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.

3.      Tahap ketiga yakni mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran (menentukan fungsi-fungsi yang dilibatkan untuk mencapai sasaran dan juga meneliti tingkat kesiapannya)

Ø  Menentukan pelaksanaan pembelajaran seperti pengembangan kurikulum, perencanaan dan evaluasi

Ø  Menentukan program ketenagaan

Ø  Menentukan program kesiswaan

Ø  Menentukan alokasi keuangan

Ø  Menentukan pengembangan iklim akademik

Ø  Menentukan pengembangan fasilitas

Ø  Menentukan program hubungan sekolah dengan masyarakat

4.      Tahap keempat yakni melakukan analisis SWOT (untuk mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran)

Ø  Mengenal dan menentukan faktor internal yang sesuai dengan keadaan sekolah

Ø  Mengenal dan menentukan faktor eksternal yang mendukung kondisi sekolah

5.      Tahap kelima yakni alternatif langkah pemecahan masalah (memilih langkah-langkah pemecahan sekolah berdasarkan hasil analisis SWOT)

Ø  Mengubah ketidaksiapan setiap fungsi menjadi kesiapan fungsi dengan mengatasi makna kelemahan dan ancaman agar menjadi kekuatan dan peluang

6.      Tahap keenam yakni menyusun rencana dan program peningkatan mutu

Ø  Membuat rencana jangka pendek, menengah dan panjang

7.      Tahap ketujuh yakni melaksanakan rencana peningkatan mutu

Ø  Membuat kegiatan yang sesuai dengan sasaran.

8.      Tahap kedelapan yakni melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan (untuk mengetahui tingkat keberhasilan program)

Ø  Menyusun laporan teknis dan laporan keuangan

9.      Tahap kesembilan atau yang terakhir yakni merumuskan sasaran baru (disesuaikan dengan hasil evaluasi)

Ø  Menentukan sasaran baru, dan melakukan analisis SWOT

 

Berikut laporan bacaan saya mengenai Manajemen Berbasis Sekolah. Paradigm baru ini ditujukan agar lebih memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Segala hal baru tentunya akan memerlukan waktu agar dapat terealisasi dengan baik dan dapat mencapai tujuan dibaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar