Senin, 14 Juni 2021

Laporan bacaan 4

 

Laporan bacaan

Khovivah (11901284)

PAI 4B

Magang 1

Tema: Manajemen Kelas

Bismillah, bacaan saya kali ini mengambil tema manajemen kelas, dan bacaan yang akan saya rangkum berjudul Konsep Manajemen Kelas dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran, bacaan saya ini dapat kalian lihat pada link berikut http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/jurnalkependidikan/article/view/551. Pada artikel tersebut terdapat beberapa kata kunci, yaitu Manajemen Kelas, Pembelajaran dan Profesionalisme Guru.

Baiklah mari kita kulas sedikit mengenai isi dari artikel ini.

Keterampilan belajar mengajar haruslah dimiliki oleh seorang guru demi menunjang pembelajaran yang berjalan dengan lancar dan nyaman bagi peserta didik. Salah satu kemampuan dasar dalam keterampilan belajar mengajar adalah keterampilan mengelola kelas yang bertujuan agar proses belajar mengajar dapat berjalan secara optimal, yang artinya keterampilan profesionalisme guru diperlukan guna membangun kondisi belajar yang menyenangkan bagi peserta didik, juga disiplin yang sehat dalam pembelajaran.

Agar hasil pendidikan menjadi lebih optimal tentulah diperlukan berbagai komponen pendukung. Peran guru disini sangatlah besar dalam mengoptimalkan hasil pendidikan tersebut. Rochman Natawijaya mengutip pendapat C. E. Beeby memfokuskan faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan, yakni faktor sosial, faktor ekonomi, dan administrasi di satu pihak dan pihak lain merupakan faktor professional (Beeby: 29, 35 dalam Natawijaya: 1991).

Mengenai faktor professional, guru memegang peranan penting dalam pemberian sumbangsih terhadap peningkatan mutu pendidikan. Tentu saja karena tuntutan profesinya tersebut, para guru harus memiliki sikap professional. Sejalan dengan hal itu, mengutip dari Nana Syaodih Sukmadinata (1998: 213) yang mengatakan bahwa “Guru yang baik adalah guru yang berhasil dalam pengajaran. Guru yang berhasil dalam pengajaran adalah guru yang mampu mempersiapkan peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam kurikulum. Untuk membawa peserta didik mencapai tujuan-tujuan itu, guru perlu memiliki berbagai kemampuan atau klasifikasi professional. Karena melalui kemampuan-kemampuan tersebut guru melaksanakan peranan-peranannya.”

Tentunya untuk memiliki kerampilan yang professional, para guru harus memiliki dulu kemampuan dasar menjadi seorang guru. Dirangkum dari pendapat salah satu ahli yakni Johnson (1980: 12) mengungkapkan bahwa “Adanya enam (6) unsur kompetensi guru, yaitu unsur tingkah laku nyata (performance), bahan pengajaran professional, proses, penyesuaian diridan unsur sikap yang mendukung performance. Berikutnya, keenam unsur tersebut akan muncul dalam satu bentuk tingkah laku nyata guru dalam proses pembelajaran.”

Mengenai pendidikan guru di Indonesia menggunakan pendekatan PGBK (Pendidikan Guru Berbasis Keterampilan). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1980: 43) merumuskan 10 kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru, yakni sebagai berikut: 1) menguasai bahan ajar, 2) mampu mengelola proses belajar mengajar, 3) mampu mengelola kelas, 4) mampu menggunakan media/sumber belajar, 5) menguasai landasan-landasan pendidikan, 6) mampu mengelola interaksi belajar mengajar, 7) mampu menilai prestasi siswa dalam proses belajar mengajar, 8) mampu melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan, 9) mengenal dan melaksanakan administrasi pengajaran, dan 10) memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan.

Melalui uraian di atas, dapat diketahui bahwa manajemen kelas merupakan hal dasar dari kemampuan-kemampuan professional yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai manajemen kelas, mati kita kupas terlebih dahulu apa itu pembelajaran. Kata pembelajaran sudah beberapa kali saya sebutkan dalam laporan saya ini. Proses pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat siswa belajar, sehingga peristiwa tersebut merupakan peristiwa belajar yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku dari siswa. Selanjutnya, Gagne (1998: 119-120) menjelaskan bahwa terjadinya perubahan tingkah laku tergantung pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Termasuk faktor jasmani/aspek fisiologis seperti tonus (tegangan otot), kebugaran tubuh siswa, faktor rohaniah/faktor psikologis seperti motivasi, tingkat kecerdasan, bakat dan sikap siswa.

Sementara itu, Chauhan mengatakan bahwa pembelajaran adalah upaya dalam memberi perangsang (stimulus), bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar, lebih lanjut Chauhan, mengungkapkan bahwa, learning is the process by which behavior is or changed through practice or training”. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

Dari beberapa definisi tentang belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses berubahnya tingkah laku yang disebabkan karena adanya pengalaman dan latihan. Perubahan perilaku tersebut bisa berbentuk perubahan fisik ataupun perubahan mental.

Dalam kegiatan pembelajaran terdapat aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar peserta didik, antara aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar peserta didik inilah yang sering disebut interaksi pembelajaran. Pengertian lain pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar, bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap. Selanjutnya, berbicara tentang pembelajaran tidak akan sempurna jika tidak membicarakan juga tentang mengajar itu sendiri. Defnisi mengajar banyak dikemukakan para ahli dengan pengertian yang berbeda-beda.

Perbedaan titik pandang tentang makna dan hakikat mengajar sebenarnya terletak pada sisi otoritas pembelajar/guru/pendidik atau otoritas pada pebelajar/siswa/peserta didik dalam aktivitas pembelajaran. Proses seperti ini dibangun di atas dasar bahwa otoritas pembelajaran terletak di atas pembelajar/guru/pendidik. Proses tersebut berlangsung karena peserta didik diberi otoritas untuk menentukan hasilnya sendiri.

Setelah mengetahui definisi umum belajar dan pembelajaran maka selanjutnya kita akan masuk ke materi manajemen kelas, yang merupakan inti pembahasan artikel ini.

Perlunya kemampuan mengelola kelas yang dimiliki oleh seorang guru karena pembelajaran adalah proses membantu siswa belajar, yang ditandai dengan perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif maupun psikomotorik. Dampak pembelajaran dapat dibedakan ke dalam bentuk langsung atau proses interaksi antara guru dan peserta didik, antara peserta didik dengan iklim atau suasana belajar yang dikembangkan. Hal ini diperlukan supaya sistematik yang berkaitan dengan pengembangan lingkungan belajar yang diciptakan oleh guru agar tujuan pembelajaran tercapai. Sunaryo dan Nyoman Dantes menyebutkanDampak pembelajaran dapat dibedakan ke dalam dampak langsung atau dampak instruksional dan dampak tak langsung atau dampak kegiatan pembelajaran yang telah diprogramkan semula. Sedangkan dampak iringan muncul sebagai pengaruh dari atau terjadi sebagai pengalaman dari lingkungan belajar. Tampak jelas bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang tidak semata-mata memberikan dampak instruksional, tetapi juga memberikan dampak iringan positif. Proses pembelajaran akan selalu berlangsung dalam suatu adegan kelas. Adegan kelas itu perlu diciptakan dan dikembangkan menjadi wahana bagi berlangsungnya pembelajaran yang efektif. Hal ini tentu saja harus didukung oleh kemampuan guru dalam mengelola kelas.

Menyimak apa yang dikemukakan para penulis di atas, kita mengetahui bahwa secara definitif antara pengajaran dan manajemen merupakan dua hal yang berbeda, baik secara konseptual, teknis maupun dalam tujuannya. Namun pada pelaksanaannya kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, dalam arti bahwa secara simultan kedua tindakan tersebut terjadi dalam proses pembelajaran. Tampak bagi para guru bahwa aspek manajemen masih dianggap sebagai suatu kegiatan yang bersifat sekunder dibanding instruction. Padahal, apabila mengingat urgensinya, kedua hal tersebut merupakan aspek yang akan menentukan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengabaikan salah satunya. Aspek kritis keberhasilan manajemen kelas terletak pada penggunaan pendekatan-pendekatan dan teknik-teknik disiplin dan kontrol kelas. Pernyataan di atas menyiratkan bahwa disiplin dan kontrol kelas merupakan bagian dari pengelolaan kelas.

Bila diperhatikan, sebenarnya banyak permasalahan manajemen yang muncul disebabkan oleh permasalahan disiplin dan kontrol kelas itu sendiri. Di antara faktor-faktor tersebut yang harus diperhatikan adalah bahwa seringkali permasalahan disiplin dan kontrol kelas justru lebih banyak timbulnya oleh perilaku guru kelas.

Menurut Biggs and Telfer (1987: 378) guru dapat memilih pendekatan yang berada pada dua kubu yang bersifat ekstrim. Yaitu antara high structure decision dengan low structure decision.

a.     High structure decision

Suatu keputusan yang ditekankan pada aturan guru dalam menciptakan lingkungan belajar. Di sini siswa relatif sedikit diberi pilihan, oleh karena itu aturan-aturan yang berasal dari siswa pun relatif sedikit.

b.     b.  Low structure decision

Siswa diberi banyak pilihan dan kesempatan dalam menentukan pengalaman belajar yang akan diperolehnya melalui otonomi yang maksimum.

Pendekatan yang pertama tampak dipengaruhi oleh metode ekspositorik, sedangkan yang keduanya sebaliknya, yakni metode-metode yang berpusat pada siswa. Walaupun pendekatan tersebut berada pada titik yang berlawanan, tetapi dalam pelaksanaan akan bersifat continuum.
Pemilihan pendekatan ini akan sangat ditentukan oleh situasi
, kondisi dan kebutuhan pada saat itu. Dengan demikian, pada suatu saat keputusan yang diambil akan berada pada titik paling ekstrim dan otoritas guru dan saat lain mungkin berada di antara otonomi maksimum siswa dan otoritas guru.

Selanjutnya kita dapat menyimak berbagai pendekatan pengelolaan kelas yang diungkapkan Sunaryo (1989) secara sederhana:

a.      a.  Pendekatan Kekuasaan

Pengelolaan kelas berarti sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Peran guru di sini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.

b.      b. Pendekatan Ancaman

Melalui pendekatan ini pengelola kelas juga diartikan sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa tetapi dilakukan melalui ancaman, seperti: melarang, menyindir, memaksa dan mengejek.

c.       Pendekatan Kebebasan

Pengelola kelas diartikan sebagai proses untuk membantu siswa merasa bebas dalam mengerjakan sesuatu kapan saja dan di mana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan siswa.

 

 

d.      Pendekatan Resep (Cookbook)

Pendekatan ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa tidak boleh dikerjakan guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi dalam kelas. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.

e.      Pendekatan Pengajaran

Pendekatan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa dengan suatu perencanaan dan pelaksanan pengajaran akan mencegah munculnya masalah tingkah laku siswa dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pengajaran yang baik.

f.        Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku (Behavior Modification)

Sesuai namanya, pengelola kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku siswa. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku siswa yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.

g.       Pendekatan Sosial Emosional

Menurut pendekatan ini pengelola kelas merupakan proses menciptakan iklim sosial, emosional positif dalam kelas. Sosiol emosional positif, artinya ada hubungan baik yang positif antara guru dan siswa atau antara siswa dengan siswa. Di sini guru adalah terhadap pembentukan hubungan pribadi itu. Peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang baik.

h.      Pendekatan Proses Kelompok

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial di mana proses kelompok adalah merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah agar pengembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif.

i.         Pendekatan Pluralistik

Pengelola kelas berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan belajar mengajar berlangsung efektif dan efisien. Guru dapat memilih 8 (delapan) pendekatan di atas dan ia bebas memilih pendekatan yang sesuai yang dapat dilaksanakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar