Senin, 14 Juni 2021

Laporan bacaan 4

 

Laporan bacaan

Khovivah (11901284)

PAI 4B

Magang 1

Tema: Manajemen Kelas

Bismillah, bacaan saya kali ini mengambil tema manajemen kelas, dan bacaan yang akan saya rangkum berjudul Konsep Manajemen Kelas dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran, bacaan saya ini dapat kalian lihat pada link berikut http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/jurnalkependidikan/article/view/551. Pada artikel tersebut terdapat beberapa kata kunci, yaitu Manajemen Kelas, Pembelajaran dan Profesionalisme Guru.

Baiklah mari kita kulas sedikit mengenai isi dari artikel ini.

Keterampilan belajar mengajar haruslah dimiliki oleh seorang guru demi menunjang pembelajaran yang berjalan dengan lancar dan nyaman bagi peserta didik. Salah satu kemampuan dasar dalam keterampilan belajar mengajar adalah keterampilan mengelola kelas yang bertujuan agar proses belajar mengajar dapat berjalan secara optimal, yang artinya keterampilan profesionalisme guru diperlukan guna membangun kondisi belajar yang menyenangkan bagi peserta didik, juga disiplin yang sehat dalam pembelajaran.

Agar hasil pendidikan menjadi lebih optimal tentulah diperlukan berbagai komponen pendukung. Peran guru disini sangatlah besar dalam mengoptimalkan hasil pendidikan tersebut. Rochman Natawijaya mengutip pendapat C. E. Beeby memfokuskan faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan, yakni faktor sosial, faktor ekonomi, dan administrasi di satu pihak dan pihak lain merupakan faktor professional (Beeby: 29, 35 dalam Natawijaya: 1991).

Mengenai faktor professional, guru memegang peranan penting dalam pemberian sumbangsih terhadap peningkatan mutu pendidikan. Tentu saja karena tuntutan profesinya tersebut, para guru harus memiliki sikap professional. Sejalan dengan hal itu, mengutip dari Nana Syaodih Sukmadinata (1998: 213) yang mengatakan bahwa “Guru yang baik adalah guru yang berhasil dalam pengajaran. Guru yang berhasil dalam pengajaran adalah guru yang mampu mempersiapkan peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam kurikulum. Untuk membawa peserta didik mencapai tujuan-tujuan itu, guru perlu memiliki berbagai kemampuan atau klasifikasi professional. Karena melalui kemampuan-kemampuan tersebut guru melaksanakan peranan-peranannya.”

Tentunya untuk memiliki kerampilan yang professional, para guru harus memiliki dulu kemampuan dasar menjadi seorang guru. Dirangkum dari pendapat salah satu ahli yakni Johnson (1980: 12) mengungkapkan bahwa “Adanya enam (6) unsur kompetensi guru, yaitu unsur tingkah laku nyata (performance), bahan pengajaran professional, proses, penyesuaian diridan unsur sikap yang mendukung performance. Berikutnya, keenam unsur tersebut akan muncul dalam satu bentuk tingkah laku nyata guru dalam proses pembelajaran.”

Mengenai pendidikan guru di Indonesia menggunakan pendekatan PGBK (Pendidikan Guru Berbasis Keterampilan). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1980: 43) merumuskan 10 kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru, yakni sebagai berikut: 1) menguasai bahan ajar, 2) mampu mengelola proses belajar mengajar, 3) mampu mengelola kelas, 4) mampu menggunakan media/sumber belajar, 5) menguasai landasan-landasan pendidikan, 6) mampu mengelola interaksi belajar mengajar, 7) mampu menilai prestasi siswa dalam proses belajar mengajar, 8) mampu melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan, 9) mengenal dan melaksanakan administrasi pengajaran, dan 10) memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan.

Melalui uraian di atas, dapat diketahui bahwa manajemen kelas merupakan hal dasar dari kemampuan-kemampuan professional yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai manajemen kelas, mati kita kupas terlebih dahulu apa itu pembelajaran. Kata pembelajaran sudah beberapa kali saya sebutkan dalam laporan saya ini. Proses pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat siswa belajar, sehingga peristiwa tersebut merupakan peristiwa belajar yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku dari siswa. Selanjutnya, Gagne (1998: 119-120) menjelaskan bahwa terjadinya perubahan tingkah laku tergantung pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Termasuk faktor jasmani/aspek fisiologis seperti tonus (tegangan otot), kebugaran tubuh siswa, faktor rohaniah/faktor psikologis seperti motivasi, tingkat kecerdasan, bakat dan sikap siswa.

Sementara itu, Chauhan mengatakan bahwa pembelajaran adalah upaya dalam memberi perangsang (stimulus), bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar, lebih lanjut Chauhan, mengungkapkan bahwa, learning is the process by which behavior is or changed through practice or training”. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

Dari beberapa definisi tentang belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses berubahnya tingkah laku yang disebabkan karena adanya pengalaman dan latihan. Perubahan perilaku tersebut bisa berbentuk perubahan fisik ataupun perubahan mental.

Dalam kegiatan pembelajaran terdapat aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar peserta didik, antara aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar peserta didik inilah yang sering disebut interaksi pembelajaran. Pengertian lain pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar, bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap. Selanjutnya, berbicara tentang pembelajaran tidak akan sempurna jika tidak membicarakan juga tentang mengajar itu sendiri. Defnisi mengajar banyak dikemukakan para ahli dengan pengertian yang berbeda-beda.

Perbedaan titik pandang tentang makna dan hakikat mengajar sebenarnya terletak pada sisi otoritas pembelajar/guru/pendidik atau otoritas pada pebelajar/siswa/peserta didik dalam aktivitas pembelajaran. Proses seperti ini dibangun di atas dasar bahwa otoritas pembelajaran terletak di atas pembelajar/guru/pendidik. Proses tersebut berlangsung karena peserta didik diberi otoritas untuk menentukan hasilnya sendiri.

Setelah mengetahui definisi umum belajar dan pembelajaran maka selanjutnya kita akan masuk ke materi manajemen kelas, yang merupakan inti pembahasan artikel ini.

Perlunya kemampuan mengelola kelas yang dimiliki oleh seorang guru karena pembelajaran adalah proses membantu siswa belajar, yang ditandai dengan perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif maupun psikomotorik. Dampak pembelajaran dapat dibedakan ke dalam bentuk langsung atau proses interaksi antara guru dan peserta didik, antara peserta didik dengan iklim atau suasana belajar yang dikembangkan. Hal ini diperlukan supaya sistematik yang berkaitan dengan pengembangan lingkungan belajar yang diciptakan oleh guru agar tujuan pembelajaran tercapai. Sunaryo dan Nyoman Dantes menyebutkanDampak pembelajaran dapat dibedakan ke dalam dampak langsung atau dampak instruksional dan dampak tak langsung atau dampak kegiatan pembelajaran yang telah diprogramkan semula. Sedangkan dampak iringan muncul sebagai pengaruh dari atau terjadi sebagai pengalaman dari lingkungan belajar. Tampak jelas bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang tidak semata-mata memberikan dampak instruksional, tetapi juga memberikan dampak iringan positif. Proses pembelajaran akan selalu berlangsung dalam suatu adegan kelas. Adegan kelas itu perlu diciptakan dan dikembangkan menjadi wahana bagi berlangsungnya pembelajaran yang efektif. Hal ini tentu saja harus didukung oleh kemampuan guru dalam mengelola kelas.

Menyimak apa yang dikemukakan para penulis di atas, kita mengetahui bahwa secara definitif antara pengajaran dan manajemen merupakan dua hal yang berbeda, baik secara konseptual, teknis maupun dalam tujuannya. Namun pada pelaksanaannya kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, dalam arti bahwa secara simultan kedua tindakan tersebut terjadi dalam proses pembelajaran. Tampak bagi para guru bahwa aspek manajemen masih dianggap sebagai suatu kegiatan yang bersifat sekunder dibanding instruction. Padahal, apabila mengingat urgensinya, kedua hal tersebut merupakan aspek yang akan menentukan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengabaikan salah satunya. Aspek kritis keberhasilan manajemen kelas terletak pada penggunaan pendekatan-pendekatan dan teknik-teknik disiplin dan kontrol kelas. Pernyataan di atas menyiratkan bahwa disiplin dan kontrol kelas merupakan bagian dari pengelolaan kelas.

Bila diperhatikan, sebenarnya banyak permasalahan manajemen yang muncul disebabkan oleh permasalahan disiplin dan kontrol kelas itu sendiri. Di antara faktor-faktor tersebut yang harus diperhatikan adalah bahwa seringkali permasalahan disiplin dan kontrol kelas justru lebih banyak timbulnya oleh perilaku guru kelas.

Menurut Biggs and Telfer (1987: 378) guru dapat memilih pendekatan yang berada pada dua kubu yang bersifat ekstrim. Yaitu antara high structure decision dengan low structure decision.

a.     High structure decision

Suatu keputusan yang ditekankan pada aturan guru dalam menciptakan lingkungan belajar. Di sini siswa relatif sedikit diberi pilihan, oleh karena itu aturan-aturan yang berasal dari siswa pun relatif sedikit.

b.     b.  Low structure decision

Siswa diberi banyak pilihan dan kesempatan dalam menentukan pengalaman belajar yang akan diperolehnya melalui otonomi yang maksimum.

Pendekatan yang pertama tampak dipengaruhi oleh metode ekspositorik, sedangkan yang keduanya sebaliknya, yakni metode-metode yang berpusat pada siswa. Walaupun pendekatan tersebut berada pada titik yang berlawanan, tetapi dalam pelaksanaan akan bersifat continuum.
Pemilihan pendekatan ini akan sangat ditentukan oleh situasi
, kondisi dan kebutuhan pada saat itu. Dengan demikian, pada suatu saat keputusan yang diambil akan berada pada titik paling ekstrim dan otoritas guru dan saat lain mungkin berada di antara otonomi maksimum siswa dan otoritas guru.

Selanjutnya kita dapat menyimak berbagai pendekatan pengelolaan kelas yang diungkapkan Sunaryo (1989) secara sederhana:

a.      a.  Pendekatan Kekuasaan

Pengelolaan kelas berarti sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Peran guru di sini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.

b.      b. Pendekatan Ancaman

Melalui pendekatan ini pengelola kelas juga diartikan sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa tetapi dilakukan melalui ancaman, seperti: melarang, menyindir, memaksa dan mengejek.

c.       Pendekatan Kebebasan

Pengelola kelas diartikan sebagai proses untuk membantu siswa merasa bebas dalam mengerjakan sesuatu kapan saja dan di mana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan siswa.

 

 

d.      Pendekatan Resep (Cookbook)

Pendekatan ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa tidak boleh dikerjakan guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi dalam kelas. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.

e.      Pendekatan Pengajaran

Pendekatan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa dengan suatu perencanaan dan pelaksanan pengajaran akan mencegah munculnya masalah tingkah laku siswa dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pengajaran yang baik.

f.        Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku (Behavior Modification)

Sesuai namanya, pengelola kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku siswa. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku siswa yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.

g.       Pendekatan Sosial Emosional

Menurut pendekatan ini pengelola kelas merupakan proses menciptakan iklim sosial, emosional positif dalam kelas. Sosiol emosional positif, artinya ada hubungan baik yang positif antara guru dan siswa atau antara siswa dengan siswa. Di sini guru adalah terhadap pembentukan hubungan pribadi itu. Peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang baik.

h.      Pendekatan Proses Kelompok

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial di mana proses kelompok adalah merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah agar pengembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif.

i.         Pendekatan Pluralistik

Pengelola kelas berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan belajar mengajar berlangsung efektif dan efisien. Guru dapat memilih 8 (delapan) pendekatan di atas dan ia bebas memilih pendekatan yang sesuai yang dapat dilaksanakan.

Selasa, 08 Juni 2021

Laporan Bacaan 3

 Laporan Bacaan: Manajemen Sekolah (Magang 1)

Oleh: Khovivah (11901284)

Kelas PAI 4B

Mahasiswi IAIN Pontianak

Bismillah, bacaan saya kali ini mengambil tema ‘Manajemen Sekolah’. Bacaan saya mengenai manajemen sekolah ini saya dapatkan disalah satu artikel disebuah situs web (kalian dapat mengakses artikel tersebut di link berikut ini: http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/edutech/article/view/578 ). Kata kunci pada artikel ini adalah manajemen berbasis sekolah.

Baiklah mari kita kulas terkait artikel Manajemen Berbasis Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Sekolah sebagai berikut.

Hakikatnya dari gerakan reformasi bangsa tentunya harus diikuti dengan reformasi Sumber Daya Manusianya juga. Pengembangan visi dan misi sebuah bangsa yang telah melakukan reformasi juga harus dilaksanakan. Namun, nyatanya modern ini banyaknya bangsa yang melakukan reformasi namun tidak merubah keadaan sejatinya di negara tersebut, kemiskinan dan kebodohan masih saja marak terjadi dewasa ini di sebuah bangsa yang telah melaksanakan reformasi tersebut.

Agar reformasi bangsa dapat dilaksanakan, tentulah dilakukan terlebih dahulu reformasi Sumber Daya Alam. Peningkatan SDM ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan taraf pendidikan di suatiu bangsa tersebut. Upaya peningkatan kualitas pendidikan tersebut haruslah mencakup semua jenjang pendidikan yang ada, mulai dari sekolah dasar hingga ke jenjang universitas. Tak hanya itu, peningkatan juga harus dilakukan dalam semua jalur pendidikan, dan berbagai jenis pendidikan yang terdapat di negarra tersebut. Banyak faktor yang terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan, salah satunya adalah faktor manajemen pendidikan, terutama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Dalam pengertiannya MBS, manajemen pendidikan tidak lagi bersifat pemusatan. Dalam pengertian MBS manajemen pendidikan memberikan otonomi yang luas pada unit sekolah itu sendiri dan juga MBS melibatkan masyarakat atau masyarakat ikut serta dalam memajukan sekolah. Dalam MBS peran serta masyarakat menjadi menonjol dalam hal musyawarah dengan pihak sekolah. Yang bisa dikatakan bahwa ketika pengambilan keputusan mengenai semua kebijakan dan program sekolah ditetapkan oleh kesepakatan oleh seluruh pihak terkait yang termasuk juga masyarakat sekitar sekolah tersebut.

Pada hakikatnya substansi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah, peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, dan peningkatan keluwesan sumber daya sekolah. Oleh sebab itu MBS ini bisa menerapkan suatu pendekatan idiografik (memperbolehkan adanya berbagai macam cara pelaksanaannya), sehingga tidak sama antara metode satu dengan yang lainnya di setiap sekolah. Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan bahwa perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah tidak menjadikan hasil akan selalu bagus. Akan tetapi akan memerlukan proses yang berlangsung cukup lama dan melibatkan semua pihak yang berkoordinasi dalam penyelenggaraan pendidikan persekolahan.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita rangkumkan terlebih dahulu mengenai istilah MBS. Istilah MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) merupakan terjemahan langsung dari School Based Management yang diartikan sebagai pendekatan yang dilakukan untuk mendesain ulang organisasi sekolah dengan memberikan kesempatan kepada partisipan sekolah yang berada dalam lingkungan sekolah guna memajukan sekolah. Yang termasuk kedalam partisipan sekolah meliputi kepala sekolah, guru, konselor, pengembang kurikulum, administrator, orang tua siswa, masyarakat sekitar, dan siswa. Mengutip pendapat dari salah satu ahli yakni Myers dan Stonehill mengemukakan bahwa MBS diartikan sebagai strategi untuk memperbaiki kualitas pendidikan dengan mentransfer otoritas pengambil keputusan dari organisasi sekolah kepada pihak orang tua siswa dan juga masyarakat sekitar sekolah untuk memiliki pengendali keputusan yang lebih besar tentang proses pendidikan dan memberikan mereka tanggung jawab terhadap dana, personel dan kurikulum.

Jadi menurut pendapat saya dapat disimpulkan bahwa MBS diartikan sebagai terobosan baru dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekolah, melalui adanya campur tangan langsung orang tua siswa dan juga masyarakat sekitar sekolah, yang menyebabkan lebih terbukanya atau adanya transparansi mengenai program sekolah dan juga pendanaan untuk meningkatkan kualitas sekolah tersebut. Tentunya hal ini sangat bermanfaat dan perlu direalisasikan secara menyeluruh dan bertahap dalam dunia pendidikan di Indonesia agar transparansi hal tersebut bisa membangun hubungan yang lebih baik antara orang tua siswa juga masyarakat dengan perangkat sekolah.

Terkait dengan pembentukan MBS ini ditujukan demi memajukan pendidikan di daerah yang belum terjamah oleh pemerintah pusat, jadi pihak sekolah dan masyarakat bisa melakukan peningkatan kualitas sekolah tanpa harus menunggu perintah dari pemerintah pusat, dapat mengembangkan visi sekolah yang sesuai dengan daerah sekolah tersebut dan melaksanakan visi sekolah tersebut secara mandiri.

Mengenai tujuan dari MBS ini dikutip dari beberapa pendapat ahli. Mengutip dari Supriono dan Sapari mengemukakan bahwa tujuan dari penerapan MBS sendiri adalah untuk meningkatkan efesiensi pengelolaan serta mutu dan relevansi pendidikan di sekolah. Selanjutnya mengutip dari Nurkolis mengatakan bahwa tujuan dari penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik menyangkut kualitas pembelajaran, kualitas kurikulum, kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Berdasarkan dari pendapat beberapa ahli mengenai tujuan dari penerapan MBS, dapat disimpulkan bahwa tujuan umum dari MBS guna meningkatkan mutu pendidikan.

Berdasarkan pendataan Bank Dunia, kualitas persekolahan di Indonesia meliputi tiga kategori, 1) sekolah maju, 2) sekolah sedang, 3) sekolah kurang. Dari ketiga kualitas persekolahan tersebut terdapat tingkatan model manajemen berbasis sekolah yang dapat dilakukan, 1) sekolah yang dapat melaksanakan MBS secara total, 2) sekolah yang dapat melaksanakan MBS secara separuh (sedang), 3) sekolah yang dapat melaksanakan MBS secara minimal. Dari kondisi ini, maka pelaksanaan MBS di setiap sekolah tidaklah sama, tergantung pada sumber daya yang ada di sekolah tersebut. Oleh sebab itu, agar pelaksanaan MBS dapat dilaksanakan secara optimal dibutuhkannya strategi pengelompokkan yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan manajemen dari masing-masing sekolah. Untuk lebih detailnya mengenai pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Kemampuan Sekolah

Kepala Sekolah dan Guru

Partisipasi Masyarakat

Pendapatan Daerah dan Orang Tua

Anggaran Sekolah

Manajemen Tinggi

Berkompetensi tinggi (termasuk kepemimpinan)

Tinggi (termasuk dukungan dana)

Tinggi

Besar

Manajemen Sedang

Berkompetensi sedang (termasuk kepemimpinan)

Sedang (termasuk dukungan dana)

Sedang

Sedang

Manajemen Rendah

Berkompetensi rendah (termasuk kepemimpinan)

Rendah (termasuk dukungan dana)

Rendah

Kecil atau tidak ada

 

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan untuk pelaksanaan MBS di setiap sekolah pasti berbeda. Perbedaan kemampuan setiap sekolah yang berbeda mengharuskan perlakuan yang berbeda dalam pelaksanaan MBS guna menerima paradigma baru dalam pendidikan. Dalam pengorganisasian MBS diperlukan berbagai perangkat dan strategi. Mengenai perangkat dan strategi yang diperlukan dalam pelaksanaan MBS, dikutip dari salah satu pendapat ahli yakni Sagala. Sagala menyebutkan perangkat dan strategi yang dibutuhkan adalah a) melaksanakan program sekolah atas dasar visi dan misi yang konsisten terhadap tujuan dan target, b) memperluas mitra sekolah dengan sektor lain, seperti pemimpin masyarakat, dan LSM, c) mendefinisikan kembali hubungan antara mitra, d) tukar menukar pengalaman dan memperkuat jaringan antarsistem dan antar sekolah, e) memperjelas fungsi dan tugas setiap tingkat dan pelaku sistem, f) membuat batas-batas kewenangan dan akuntabilitas setiap pelaku, g) menciptakan perangkat-perangkat yang diperlukan, h) memenuhi kebutuhan informasi untuk sekolah, dan i) mendistribusikan kewenangan, tanggung jawab, dan sumber daya ke tingkat subordinasi. Sementara itu kelompok kerja MBS menurut Fasli dan Dedi Supriadi menyatakan diperlukan tiga tahapan dalam strategi pelaksanaan MBS yakni (a) strategi jangka pendek, (b) strategi jangka menengah, dan (c) strategi jangka panjang.

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai strategi pelaksanaan MBS, strategi yang sama tidak dapat dilakukan dengan semua sekolah, tetap tergantung pada sumber daya yang ada di sekitar sekolah tersebut. Namun pihak sekolah bisa memadukan berbagai strategi yang ada agar tercapainya tujuan memajukan pendidikan di sekolah.

Dalam pelaksanaan MBS diperlukan berbagai tahapan, maka Depdiknas melalui Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, telah mengeluarkan empat buah buku panduan mengenai tahapan pelaksanaan MBS. Pada buku satu dipaparkan Sembilan tahapan dalam pelaksanaan MBS yang bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi sekolah. Tahapan-tahapannya sebagai berikut.

1.      Tahap pertama yakni melakukan sosialisasi (memahami konsep MBS tentang ‘apa’, ‘mengapa’, dan ‘bagaimana’)

Ø  Memahami sistem, budaya, dan sumber daya yang ada di sekolah dan merefleksikannya apakah cocok untuk mendukung penyelenggaraan MBS.

Ø Mengidentifikasikan sistem, budaya, dan sumber daya yang perlu diperkuat dan yang perlu diubah untuk menyelenggarakan MBS

Ø Membuat komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggung jawab, jika terjadi perubahan sistem, budaya, dan sumber daya yang cukup mendasar.

2.      Tahap kedua yakni merumuskan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah (visi adalah pandangan jauh ke depan kemana sekolah akan dibawa, misi adalah tindakan untuk mewujudkan/merealisasikan visi, tujuan merupakan tahapan wujud sekolah menuju visi yang telah dicanangkan, sasaran adalah penjabaran tujuan, yaitu sesuatu yang dihasilkan sekolah dalam jangka waktu lebih singkat)

Ø  Penyusunan rencana pengembangan sekolah, melalui: a) penentuan program jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek, b) mengidentifikasi tantangan nyata sekolah, c) menentukan skala prioritas berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.

3.      Tahap ketiga yakni mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran (menentukan fungsi-fungsi yang dilibatkan untuk mencapai sasaran dan juga meneliti tingkat kesiapannya)

Ø  Menentukan pelaksanaan pembelajaran seperti pengembangan kurikulum, perencanaan dan evaluasi

Ø  Menentukan program ketenagaan

Ø  Menentukan program kesiswaan

Ø  Menentukan alokasi keuangan

Ø  Menentukan pengembangan iklim akademik

Ø  Menentukan pengembangan fasilitas

Ø  Menentukan program hubungan sekolah dengan masyarakat

4.      Tahap keempat yakni melakukan analisis SWOT (untuk mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran)

Ø  Mengenal dan menentukan faktor internal yang sesuai dengan keadaan sekolah

Ø  Mengenal dan menentukan faktor eksternal yang mendukung kondisi sekolah

5.      Tahap kelima yakni alternatif langkah pemecahan masalah (memilih langkah-langkah pemecahan sekolah berdasarkan hasil analisis SWOT)

Ø  Mengubah ketidaksiapan setiap fungsi menjadi kesiapan fungsi dengan mengatasi makna kelemahan dan ancaman agar menjadi kekuatan dan peluang

6.      Tahap keenam yakni menyusun rencana dan program peningkatan mutu

Ø  Membuat rencana jangka pendek, menengah dan panjang

7.      Tahap ketujuh yakni melaksanakan rencana peningkatan mutu

Ø  Membuat kegiatan yang sesuai dengan sasaran.

8.      Tahap kedelapan yakni melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan (untuk mengetahui tingkat keberhasilan program)

Ø  Menyusun laporan teknis dan laporan keuangan

9.      Tahap kesembilan atau yang terakhir yakni merumuskan sasaran baru (disesuaikan dengan hasil evaluasi)

Ø  Menentukan sasaran baru, dan melakukan analisis SWOT

 

Berikut laporan bacaan saya mengenai Manajemen Berbasis Sekolah. Paradigm baru ini ditujukan agar lebih memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Segala hal baru tentunya akan memerlukan waktu agar dapat terealisasi dengan baik dan dapat mencapai tujuan dibaliknya.