Laporan bacaan
Khovivah (11901284)
PAI 4B
Magang 1
Tema: Manajemen Kelas

Bismillah, bacaan saya kali ini mengambil tema
manajemen kelas, dan bacaan yang akan saya rangkum berjudul Konsep Manajemen
Kelas dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran, bacaan saya ini dapat kalian
lihat pada link berikut http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/jurnalkependidikan/article/view/551. Pada artikel tersebut terdapat beberapa
kata kunci, yaitu Manajemen Kelas, Pembelajaran dan Profesionalisme Guru.
Baiklah mari kita kulas sedikit mengenai isi dari
artikel ini.
Keterampilan belajar mengajar haruslah dimiliki oleh
seorang guru demi menunjang pembelajaran yang berjalan dengan lancar dan nyaman
bagi peserta didik. Salah satu kemampuan dasar dalam keterampilan belajar
mengajar adalah keterampilan mengelola kelas yang bertujuan agar proses belajar
mengajar dapat berjalan secara optimal, yang artinya keterampilan profesionalisme
guru diperlukan guna membangun kondisi belajar yang menyenangkan bagi peserta
didik, juga disiplin yang sehat dalam pembelajaran.
Agar hasil pendidikan menjadi lebih optimal tentulah
diperlukan berbagai komponen pendukung. Peran guru disini sangatlah besar dalam
mengoptimalkan hasil pendidikan tersebut. Rochman Natawijaya mengutip pendapat
C. E. Beeby memfokuskan faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan, yakni faktor
sosial, faktor ekonomi, dan administrasi di satu pihak dan pihak lain merupakan
faktor professional (Beeby: 29, 35 dalam Natawijaya: 1991).
Mengenai faktor professional, guru memegang peranan
penting dalam pemberian sumbangsih terhadap peningkatan mutu pendidikan. Tentu
saja karena tuntutan profesinya tersebut, para guru harus memiliki sikap
professional. Sejalan dengan hal itu, mengutip dari Nana Syaodih Sukmadinata
(1998: 213) yang mengatakan bahwa “Guru yang baik adalah guru yang berhasil
dalam pengajaran. Guru yang berhasil dalam pengajaran adalah guru yang mampu
mempersiapkan peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam
kurikulum. Untuk membawa peserta didik mencapai tujuan-tujuan itu, guru perlu
memiliki berbagai kemampuan atau klasifikasi professional. Karena melalui
kemampuan-kemampuan tersebut guru melaksanakan peranan-peranannya.”
Tentunya untuk memiliki kerampilan yang professional,
para guru harus memiliki dulu kemampuan dasar menjadi seorang guru. Dirangkum
dari pendapat salah satu ahli yakni Johnson (1980: 12) mengungkapkan bahwa
“Adanya enam (6) unsur kompetensi guru, yaitu unsur tingkah laku nyata (performance),
bahan pengajaran professional, proses, penyesuaian diridan unsur sikap
yang mendukung performance. Berikutnya, keenam unsur tersebut akan
muncul dalam satu bentuk tingkah laku nyata guru dalam proses pembelajaran.”
Mengenai pendidikan guru di Indonesia menggunakan
pendekatan PGBK (Pendidikan Guru Berbasis Keterampilan). Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan (1980: 43) merumuskan 10 kemampuan yang harus dimiliki oleh
seorang guru, yakni sebagai berikut: 1) menguasai bahan ajar, 2) mampu
mengelola proses belajar mengajar, 3) mampu mengelola kelas, 4) mampu
menggunakan media/sumber belajar, 5) menguasai landasan-landasan pendidikan, 6)
mampu mengelola interaksi belajar mengajar, 7) mampu menilai prestasi siswa
dalam proses belajar mengajar, 8) mampu melaksanakan program bimbingan dan
penyuluhan, 9) mengenal dan melaksanakan administrasi pengajaran, dan 10)
memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan.
Melalui uraian di atas, dapat diketahui bahwa
manajemen kelas merupakan hal dasar dari kemampuan-kemampuan professional yang
harus dimiliki oleh seorang guru.
Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai manajemen
kelas, mati kita kupas terlebih dahulu apa itu pembelajaran. Kata pembelajaran
sudah beberapa kali saya sebutkan dalam laporan saya ini. Proses pembelajaran
adalah suatu usaha untuk membuat siswa belajar, sehingga peristiwa tersebut
merupakan peristiwa belajar yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku
dari siswa. Selanjutnya, Gagne (1998: 119-120) menjelaskan bahwa terjadinya perubahan
tingkah laku tergantung pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam dan
faktor dari luar. Termasuk faktor jasmani/aspek fisiologis seperti tonus (tegangan
otot), kebugaran
tubuh siswa, faktor rohaniah/faktor psikologis seperti
motivasi, tingkat kecerdasan, bakat dan sikap siswa.
Sementara itu, Chauhan mengatakan bahwa
pembelajaran adalah upaya dalam memberi perangsang (stimulus), bimbingan, pengarahan dan
dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar, lebih lanjut
Chauhan, mengungkapkan bahwa, “learning is the process by which
behavior is or changed through practice or training”. Belajar adalah serangkaian kegiatan
jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut
kognitif, afektif dan psikomotor.
Dari beberapa definisi
tentang belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses berubahnya
tingkah laku yang disebabkan karena adanya pengalaman dan latihan. Perubahan
perilaku tersebut bisa berbentuk perubahan fisik ataupun perubahan mental.
Dalam kegiatan pembelajaran terdapat aktivitas
mengajar guru dan aktivitas belajar peserta didik, antara aktivitas
mengajar guru dan aktivitas belajar peserta didik inilah yang sering disebut
interaksi pembelajaran. Pengertian lain pembelajaran adalah proses yang
diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam
belajar, bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan
sikap. Selanjutnya, berbicara tentang pembelajaran tidak akan
sempurna jika tidak membicarakan juga tentang mengajar itu
sendiri. Defnisi mengajar banyak dikemukakan para ahli dengan pengertian
yang berbeda-beda.
Perbedaan titik pandang tentang makna dan hakikat
mengajar sebenarnya terletak pada sisi otoritas pembelajar/guru/pendidik atau otoritas pada pebelajar/siswa/peserta
didik dalam aktivitas pembelajaran. Proses seperti ini
dibangun di atas dasar bahwa otoritas pembelajaran terletak di atas pembelajar/guru/pendidik. Proses
tersebut berlangsung karena peserta didik diberi otoritas untuk menentukan
hasilnya sendiri.
Setelah mengetahui
definisi umum belajar dan pembelajaran maka selanjutnya kita akan masuk ke
materi manajemen kelas, yang merupakan inti pembahasan artikel ini.
Perlunya kemampuan mengelola kelas yang dimiliki
oleh seorang guru karena pembelajaran adalah proses membantu siswa belajar, yang ditandai dengan perubahan
perilaku baik dalam aspek kognitif maupun psikomotorik. Dampak pembelajaran dapat dibedakan ke
dalam bentuk langsung atau proses interaksi antara guru dan peserta didik, antara peserta didik dengan
iklim atau suasana belajar yang dikembangkan. Hal ini diperlukan supaya
sistematik yang berkaitan dengan pengembangan lingkungan belajar yang
diciptakan oleh guru agar tujuan pembelajaran tercapai. Sunaryo dan Nyoman Dantes menyebutkan “Dampak pembelajaran dapat dibedakan ke
dalam dampak langsung atau dampak instruksional dan dampak tak langsung atau
dampak kegiatan pembelajaran yang telah diprogramkan semula. Sedangkan dampak iringan muncul
sebagai pengaruh dari atau terjadi sebagai pengalaman dari lingkungan belajar”. Tampak jelas bahwa pembelajaran yang
efektif adalah pembelajaran yang tidak semata-mata memberikan dampak instruksional, tetapi juga memberikan dampak
iringan positif. Proses pembelajaran akan selalu berlangsung dalam
suatu adegan kelas. Adegan kelas itu perlu diciptakan dan dikembangkan
menjadi wahana bagi berlangsungnya pembelajaran yang efektif. Hal ini tentu saja harus
didukung oleh kemampuan guru dalam mengelola kelas.
Menyimak apa yang dikemukakan para penulis di
atas, kita mengetahui bahwa secara
definitif antara pengajaran dan manajemen merupakan dua hal yang berbeda, baik secara konseptual, teknis maupun dalam tujuannya. Namun pada pelaksanaannya kedua
hal tersebut tidak dapat dipisahkan, dalam arti bahwa secara simultan kedua
tindakan tersebut terjadi dalam proses pembelajaran. Tampak bagi para guru bahwa aspek
manajemen masih dianggap sebagai suatu kegiatan yang bersifat sekunder
dibanding instruction. Padahal, apabila mengingat urgensinya, kedua hal tersebut merupakan aspek
yang akan menentukan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk
mengabaikan salah satunya. Aspek kritis keberhasilan manajemen kelas terletak pada penggunaan
pendekatan-pendekatan dan teknik-teknik disiplin dan kontrol kelas. Pernyataan di atas menyiratkan
bahwa disiplin dan kontrol kelas merupakan bagian dari pengelolaan kelas.
Bila diperhatikan, sebenarnya banyak
permasalahan manajemen yang muncul disebabkan oleh permasalahan disiplin dan
kontrol kelas itu sendiri. Di antara faktor-faktor tersebut yang
harus diperhatikan adalah bahwa seringkali permasalahan disiplin dan kontrol
kelas justru lebih banyak timbulnya oleh perilaku guru kelas.
Menurut
Biggs and Telfer (1987: 378) guru dapat memilih pendekatan yang berada pada dua
kubu yang bersifat ekstrim. Yaitu antara high structure decision dengan low
structure decision.
a. High structure
decision
Suatu keputusan yang ditekankan pada aturan guru dalam menciptakan
lingkungan belajar. Di sini siswa relatif sedikit diberi pilihan, oleh karena
itu aturan-aturan yang berasal dari siswa pun relatif sedikit.
b. b. Low structure
decision
Siswa diberi banyak pilihan dan kesempatan dalam menentukan
pengalaman belajar yang akan diperolehnya melalui otonomi yang maksimum.
Pendekatan yang pertama tampak dipengaruhi oleh
metode ekspositorik, sedangkan yang keduanya sebaliknya, yakni metode-metode yang
berpusat pada siswa. Walaupun pendekatan tersebut berada pada titik yang
berlawanan, tetapi dalam pelaksanaan akan bersifat continuum.
Pemilihan pendekatan ini akan sangat ditentukan
oleh situasi, kondisi dan kebutuhan pada saat itu. Dengan demikian, pada suatu saat keputusan yang
diambil akan berada pada titik paling ekstrim dan otoritas guru dan saat lain
mungkin berada di antara otonomi maksimum siswa dan otoritas guru.
Selanjutnya
kita dapat menyimak berbagai pendekatan pengelolaan kelas yang diungkapkan
Sunaryo (1989) secara sederhana:
a. a. Pendekatan
Kekuasaan
Pengelolaan kelas berarti sebagai suatu proses untuk mengontrol
tingkah laku siswa. Peran guru di sini adalah menciptakan dan mempertahankan
situasi disiplin dalam kelas.
b. b. Pendekatan Ancaman
Melalui pendekatan ini pengelola kelas juga diartikan sebagai
proses untuk mengontrol tingkah laku siswa tetapi dilakukan melalui ancaman,
seperti: melarang, menyindir, memaksa dan mengejek.
c.
Pendekatan Kebebasan
Pengelola kelas diartikan sebagai proses untuk membantu siswa
merasa bebas dalam mengerjakan sesuatu kapan saja dan di mana saja. Peranan
guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan siswa.
d. Pendekatan
Resep (Cookbook)
Pendekatan ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat
menggambarkan apa yang harus dan apa tidak boleh dikerjakan guru dalam mereaksi
semua masalah atau situasi yang terjadi dalam kelas. Peranan
guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
e. Pendekatan
Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa dengan suatu
perencanaan dan pelaksanan pengajaran akan mencegah munculnya masalah tingkah
laku siswa dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Peranan
guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pengajaran yang baik.
f.
Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku (Behavior Modification)
Sesuai namanya, pengelola kelas diartikan sebagai suatu proses
untuk mengubah tingkah laku siswa. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah
laku siswa yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
g. Pendekatan
Sosial Emosional
Menurut pendekatan ini pengelola kelas merupakan proses menciptakan
iklim sosial, emosional positif dalam kelas. Sosiol emosional positif, artinya
ada hubungan baik yang positif antara guru dan siswa atau antara siswa dengan
siswa. Di sini guru adalah terhadap pembentukan hubungan pribadi itu.
Peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang baik.
h. Pendekatan
Proses Kelompok
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan
kelas sebagai suatu sistem sosial di
mana proses kelompok adalah merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah
agar pengembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif.
i.
Pendekatan Pluralistik
Pengelola kelas berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang
memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan belajar mengajar berlangsung
efektif dan efisien. Guru dapat memilih 8 (delapan) pendekatan di atas dan ia
bebas memilih pendekatan yang sesuai yang dapat dilaksanakan.
