Senin, 19 April 2021

Laporan Bacaan 2

Laporan Bacaan 2 (Magang 1)

Oleh: Khovivah (11901284)

Mahasiswi PAI 4B IAIN Pontianak


Laporan bacaan saya pada minggu ini membahas mengenai Kultur Sekolah. Bacaan saya mengenai Kultur Sekolah ini saya dapatkan dari salah satu artikel, (kalian bisa mengakses artikel tersebut pada link inihttps://scholar.google.com/citations?user=ANnQmJMAAAAJ&hl=id&oi=sra). Kata kunci yang terkait pada artikel ini ialah mengenai pendidikan, budaya dan kultur sekolah. Penulis dari artikel yang saya baca bernama Ariefa Efianingrum.

Maka dari itu saya akan mengulas mengenai isi dan bahasan yang ada dalam artikel ini, mari kita bahas seksama.

Diawali dengan membahas mengenai perubahan sosial masyarakat yang menjadi salah satu alasan terjadinya perkembangan pendidikan. Perkembangan pendidikan sejatinya menjadi salah satu penunjang akan kebangkitan suatu bangsa atau negara. Pendidikan merupakan kegiatan kemuliaan dengan mencerdaskan anak bangsa, yang sesuai dengan konsep Tamansiswa yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara.


Sekolah yang dipercaya sebagai institusi pengembangan potensi kecerdasan anak, memiliki tanggung jawab yang berat sekaligus tantangan yang berat dalam mengemban tugas tersebut. Dalam rancangan membangun pendidikan di sekolah, terdapat dua wacana besar, yaitu:

“Wacana pertama adalah academic achievement discourses (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana dominan yang lebih menekankan pada proses restrukturisasi (meliputi: deregulasi, desentralisasi, perubahan kurikulum, dan pelatihan). Sedangkan wacana yang kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi (terkait dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran mind-sets)” 

(Suyata, 2000).

Pada pernyataan ini menekankan bahwa proses peningkatan pendidikan lebih hanya menekankan pada proses restrukturisasi tidaklah lagi memadai, dikarenakan adanya keyakinan bahwa sistem sosial dan sistem budaya yang menjadi kunci keberhasilan dalam proses peningkatan pendidikan.


Yang menjadi kunci keberhasilan peningkatan pendidikan di masa ini adalah sistem sosial dan sistem budaya dalam masyarakat, itulah yang menjadi kata kunci atau yang sedang dibahas dalam artikel ini. Faktor peningkatan ataupun ketertinggalan taraf kehidupan dan pendidikan ini bukanlah berasal dari luar masyarakat, melainkan dari masyarakat itu sendiri, apakah ia akan memilih untuk maju dan meningkatkan atau ketertinggalan taraf kehidupan dan pendidikan mereka sendiri.


Faktor internal dalam masyarakat itu tidak lain dan tidak bukan adalah budaya. Berbagai para ahli memberikan pendefinisian mengenai budaya ini, salah satunya adalah Clifford Geertz, ia mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut.

“Deskripsi mendalam (thick description) dalam menjelaskan jalan hidup masyarakat (the way of life of a society) yang meliputi: nilai, praktik, simbol, institusi, dan relasi sosial. Kebudayaan juga diartikan sebagai referensi bersama yang memungkinkan bahwa tingkah laku anggota suatu kelompok sosial dapat dipahami, diramalkan, dan diterima oleh anggota lainnya” 

(Harrison & Huntington, 2000)


Kebudayaan dalam keterlaksanaan dalam pembelajaran seringkali disalah pahami hanya untuk pembangunan ekonomi saja. Belum banyak yang memahami bagaimana mengembangkan konteks budaya dalam arti yang luas. Kebudayaan memiliki kekuatan konstitutif dalam memainkan perannya dalam hal tranformasi. Kebudayaan juga memiliki kekuatan reflektif dalam melakukan legitimasi sosial (Kleden, 1988). Hal tersebut juga berlaku dalam hal persekolahan (schooling).


Persekolahan juga mendapat perhatian dari para ahli, salah satunya yaitu Deal & Peterson (2011), mereka mendefinisikan kultur juga penting dalam konteks sekolah yang tersaji dalam literatur “Shaping School Culture” sebagai berikut.

“While policymakers and reformers are pressing for new structures and more rational assessments, it is important to remember that these changes cannot be successful without cultural support. School culture, in short, are key to school achievement and student learning” 

(Deal & Peterson, 2011)

Definisi diatas dimaknai bahwa kultur sekolah dan pimpinan sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural di lingkungan sekolah. Kultur sekolah adalah faktor kunci keberhasilan dalam menentukan peningkatan akademik ataupun non-akademik para peserta didik.


Dalam kenyataan yang berkembang di masyarakat kini, peningkatan pendidikan selalulah dilaksanakan namun apa daya peningkatan tersebut tak terlalu membuahkan hasil yang memuaskan. Seperti yang dikemukakan oleh Deal & Peterson (2011) berikut ini.

”Too much emphasis has been given in reforming schools from the outside. through policy ad mandate. Too little attention has been paid to how schools can be shaped from within, as Roland Barth demonstrates. Teaching staff and administrators can lead the way to successful cultures where all students learn. It’s clearly time to reconsider and rethink the issue and importance of school culture in today’s educational environment”

(Deal & Peterson, 2011)

Mengenai pernyataan dari Deal & Peterson ini mengandung arti bahwa upaya perbaikan pendidikan saat ini hanyalah menekankan pada perbaikan eksternal saja seperti perubahan kebijakan pendidikan. Namun tak hela upaya perbaikan internal tidak dilaksanakan seperti merubah mindset warga sekolah. Sekolah memiliki tanggung jawab dalam memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik untuk peserta didiknya, tak ayal para guru dituntut yang melaksanakan tugas tersebut. Dalam hal ini yang menjadi perhatian dalam meningkatkan taraf pendidikan di sekolah adalah dengan meningkatkan kultur sekolah.


Mengenai pendefinisian tentang kultur sekolah, terdapat banyak ahli yang ikut menyumbangkan pemikiran mereka. Salah satunya adalah Deal & Peterson (2011), pernyataan mereka sebagai berikut.

“School culture is the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that make up the persona of the school. These unwritten expectation build up over time as teachers, administrators, parents, and students work together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with failures, For examples, every school has a set of expectations about what can be discussed at staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how willing the staff is to change, and the importance of staff development. School culture is also the way they think their schools and deal with the culture in which they work”

(Deal & Peterson, 2011)

Budaya sekolah merupakan gabungan norma-norma, nilai-nilai kehidupan dan keyakinan, ritual dan upacara, kiasan dan cerita dalam lingkungan sekolah. Pada pernyataan diatas tertulis harapan untuk membangun sekolah dari kerja sama para guru, administrator, orang siswa dan juga para siswa itu sendiri dalam memecahkan persoalan yang ada, menghadapi rintangan, dan juga mengatasi kegagalan bersama. Sekolah tentunya memiliki banyak harapan dalam membangun atau meningkatkan kualitas sekolah. Budaya sekolah merupakan cara berpikir tentang sekolah dan juga urusan kebudayaan di mana mereka bekerja.


Dijelaskan dalam literatur sosiologi pendidikan bahwa budaya sekolah bermakna: a complex set of beliefs, values and traditions, ways of thinking and behaving, yang bermakna bahwa: seperangkat keyakinan, nilai dan tradisi yang kompleks, tentang cara berpikir dan berperilaku (Vembriarto, 1993). 


Sekolah berperan sebagai wadah atau media dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi selanjutnya, yang tentu saja dalam penyampaian tersebut mengikuti perkembangan zaman dan juga perkembangan masyarakat itu sendiri. Namun kadang kala di dalam lingkungan sekolah itu sendiri terbentuk pola kelakuan tersendiri. Kebudayaan sekolah juga terkait dengan bagian dari kebudayaan masyarakat luas juga, tetapi kebudayaan sekolah memiliki ciri khusus tersendiri yakni sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, 1999).


Itulah penjelasan terkait dengan pembahasan kultur sekolah secara umum. Semakin canggihnya teknologi tentunya pendidikan juga harus meningkatkan daya saing atau peningkatan mutu pendidikan, salah satunya dengan menaikkan atau meningkatkan mutu sekolah yang menjadi wadah atau media dalam penyampaian informasi pendidikan. Tak ayal peningkatan mutu pendidikan tak dibarengi dengan perubahan mindset para peserta didik maupun pendidik. Tentu hal itu kurang memuaskan jika hanya intelektual saja yang dikembangkan, tetapi budaya sekolah tidak.

Selanjutnya akan dibahas mengenai implikasi kultur sekolah terhadap perbaikan sekolah. Mari kita bahas.


Mengutip dari Deal & Peterson (2011) yang mendeskripsikan mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berdampak terhadap fungsi sekolah:

  1. Visi dan Nilai (Vision and Values)

Pendefinisian mengenai visi ini mengutip dari 2 pendapat ahli, yakni pertama Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) mendefinisikan visi sebagai berikut: “Vision as an ideal and unique image of the future”. Sedangkan Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”.

Dari kedua pernyataan ahli diatas dapat disimpulkan bahwa visi adalah penyusunan konsep yang ideal dan unik untuk menata masa depan. Sedangkan nilai dalam artian umum didefinisikan sebagai "A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which influence the selection from available modes, means, and ends of action”(Kluckhohn dalam Enz, 1986).

Nilai bukan lagi hanya sekedar sebuah opsi ataupun alternatif, melainkan merupakan sebuah integrasi, perasaan dan integrasi.

  1. Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Upacara, tradisi dan perayaan bisa dijadikan sebagai ajang pendekatan informal bagi warga sekolah yang relevan dengan budaya.

  1. Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu dapat membangkitkan jiwa kebudayaan.

  1. Arsitektur dan Artefak (Architecture and 

Artifacts)

Sekolah tentunya memiliki lambang/logo sekolah, lagu mars sekolah, yang bisa dijadikan acuan dalam mengembangkan budaya dalam dunia sekolah. Juga bisa memanfaatkan lahan pada area sekolah, seperti Majalah Dinding (Mading), atau website sekolah.


Guru juga bisa mendorong kreativitas dan imajinasi para peserta didik dengan menggunakan budaya, dan lain hal sebagainya yang sebenarnya bisa ditumbuhkan dalam jiwa warga sekolah melalui budaya sekolah.


Kultur sekolah bukan hanya terbatas pada kultur di sekolah, melainkan bisa dijadikan sebagai keunikan tersendiri bagi sekolah. Kultur sekolah tak hanya dapat mengembangkan prestasi akademik peserta didik saja, atau hanya  prestasi non-akademik saja, namun juga bisa untuk mengembangkan potensi yang lebih luas, dan akan dibahas secara rinci dibawah ini.

  1. Prestasi Akademik

Tentunya prestasi akademik lebih mencolok dari hal lainnya, karena orang tua siswa rata-rata mementingkan prestasi akademik anaknya.

  1. Prestasi non-akademik

Prestasi non-akademik yang dapat dikembangkan dengan unsur kultur sekolah adalah bagian kesenian, atau olahraga, dan lainnya. Nilai-nilai kreatifitas dan demokrasi juga bisa dikembangkan, karena kepintaran para peserta didik itu bervariasi, tentuny prestasi non-akademik demi menunjang para peserta didik di masa depan.

  1. Karakter

Pembentukan karakter yang baik saat ini tentulah sangat penting. Penanaman nilai moral yang baik pada peserta didik dari lingkungan yang baik akan menjadikan moral dan karakter peserta didik juga akan baik.

  1. Kelestarian Lingkungan Hidup

Dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar tentunya akan sangat nyaman jika lingkungan belajar juga nyaman. Kelestarian lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab semua warga sekolah agar menjadikan lingkungan yang nyaman, aman dan damai.


Setiap sekolah tentunya memiliki kultur sekolah yang khas yang sesuai dengan potensi yang dimiliki yang dapat mencirikan sekolah tersebut. Kultur sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi peserta didik.

Senin, 12 April 2021

Laporan Bacaan 1

 Laporan Bacaan: Pendidikan (Magang 1)

Pemanfaatan Teknologi sebagai Media Pembelajaran Daring (Online) bagi Guru dan Siswa di SMK NU Rogojampi

Oleh: Khovivah (11901284)

Mahasiswi PAI 4B IAIN Pontianak



Bacaan saya pada minggu ini mengambil tema ‘pendidikan’, mengambil salah satu materi dari artikel yang berjudul PEMANFAATAN TEKNOLOGI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DARING (ONLINE) BAGI GURU DAN SISWA DI SMK NU ROGOJAMPI, yang terdapat di salah satu situs (kalian bisa akses artikel disini https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnp/article/download/5886/4220 ). Pada artikel ini membahas bagaimana cara memadu-padankan pembelajaran daring dengan metode pembelajaran konvensional guna meningkatkan daya kompetensi para siswa di masa pandemi ini, juga untuk memudahkan para siswa untuk mengunduh materi pembelajaran. Laporan bacaan ini saya gunakan untuk mengulas artikel tersebut menurut sudut pandang saya tetapi tetap mengedepankan fakta yang ada didalam artikel tersebut.

Dewasa ini pemerintah sedang gencar-gencarnya dalam mengalakkan pendidikan vokasional atau bahasa mudahnya dikenal dengan sekolah kejuruan. Juga digalakkan pembukaan Sekolah Menengah Kejuruan dengan jurusan yang begitu beragam. Contohnya pada SMK NU Rogojampi. Tujuan pemerintah dengan mengalakkan pendidikan vokasional ini dimaksudkan untuk mendapatkan tenaga kerja yang lebih profesional dalam bidangnya demi pembangunan bangsa lebih terarah dan terencana.

Pemanfaatan teknologi sejatinya sudah merabah dalam berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali pada bidang pendidikan. Pemanfaatan teknologi dalam menunjang kegiatan pembelajaran daring ini sangatlah dibutuhkan karena bisa meminimalisir pemanfataan waktu dan tempat yang tidak bisa dilaksanakan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran mengguanakan sistem konvensional. Pemanfaatan teknologi ini sangatlah memudahkan para guru dan siswa dalam melaksanakan proses belajar belajar, hanya membutuhkan sinyal internet yang stabil dan alat komunikasi seperti handphone.

Dalam artikel ini yang menjadi subjek atau target untuk penelitian dalam menulis artikel ini adalah para guru dan siswa di SMK NU Rogojampi yang berjumlah 20 orang. Media yang digunakan adalah sebuah web hosting yang sebelumnya sudah terinstal aplikasi moodle sebagai sistem manajemen untuk penerapan pembelajaran daring. Sebelumnya dilakukan pengunjungan ke SMK NU Rogojampi, guna mengetahui terjangkau atau tidaknya SMK NU Rogojampi ini guna untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran daring (online). Dalam kegiatan tinjauan tersebut bahwa SMK NU Rogojampi memenuhi standar minimal untuk membangun e-learning guna menunjang kegiatan pembelajaran daring (online).

Selain itu juga dilakukannya pembentukan nama domain dan juga webhosting, juga mempersiapkan segala fitur-fitur kelengkapan dalam portal e-learning yang digunakan. Kelengkapan fitur pendukung itu sangatlah memudahkan para siswa dan guru dalam mengakses web tersebut, guna memudahkan proses pembelajaran daring (online).

Pelatihan memanfaatkan teknologi guna memperlancar kegiatan belajar mengajar secara daring (online), yang dilaksanakan di SMK NU Rogojampi ini menggunakan sekitaran 20 orang dari guru dan siswa dengan cara diskusi, ceramah dan latihan guna mempelajari moodle sebagai media pembelajaran online.

Pelatihan yang diikuti oleh hanya sekitaran 20 orang ini sejujurnya menurut saya kurang efektif, harusnya lebih banyak lagi siswa dan guru yang diundang. Alasannya adalah tidak semua murid akan paham dengan penjelasan oleh pihak kedua, apalagi bagi sekolah kejuruan yang notaben nya lebih banyak kegiatan praktek diluar kelas guna mengasah kemampuan mereka. Bisa saja mereka kurang piham jika pihak kedua yang menjelaskan kepada murid dan guru yang lain.

Pelaksana dari pelatihan pengenalan media pembelajaran e-learning ini adalah LPPM Politeknik Banyuwangi, jam terbang mereka yang sudah tinggi menjadikan mereka sangat dipercaya oleh pemerintah daerah terkhususnya PemDa Banyuwangi untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah. Pelaksanaan pelatihan ini dilakukan oleh 4 orang ahli atau pakar.

Dari hasil pelatihan didapatkan kesimpulan bahwa para guru dan siswa yang mengikuti pelatihan tersebut paham dan mengerti bagaimana cara menggunakan dan mengakses e-learning tersebut. Para guru paham dan mengerti bagaimana cara operasional membagikan informasi tugas dan soal ujian. Juga para siswa memahami bagaimana cara mengunduh materi yang dibagikan oleh guru, juga mereka mengerti bagaimana cara mengerjekan ujian online.

Setelah penerangan mengenai cara mengakses e-learning, para siswa dan guru juga dijelaskan bagaimana mengoperasikan moodle. Mereka diterangkan terlebih dahulu apa itu moodle sebagai media pembelajaran e-learning. Setelah mereka memahami bagaimana cara mengakses e-learning, para peserta khususnya para guru diminta untuk mempraktekkan secara langsung cara mengelola profil para guru juga cara mengelola sesuai mata pelajaran. Para peserta khususnya para guru juga diminta untuk mempraktekkan cara mengungah materi juga pembuatan tes ujian online untuk para murid. Aplikasi moodle telah ditambahkan fitur untuk membedakan kelompok, contohnya kelompok guru dan murid berbeda, karena akses mereka juga beda seperti yang telah dijelaskan di atas.

Pelatihan pengenalan media pembelajaran daring (online) yang dilaksanakan di SMK NU Rogojampi memberikan pemahaman kepada para peserta tentang manfaat dalam melaksanakan pembelajaran online ini. Aplikasi moodle yang digunakan juga mempunyai beberapa fitur tambahan yang akan memudahkan proses pembelajaran. Peserta pelatihan yang diikuti oleh beberapa murid dan guru ini menjadikan mereka paham apa saja fungsi aplikasi e-learning yang sudah dipasangi oleh webhosting, sesuai dengan kelompok mereka masing-masing. Para guru diperkenankan untuk membagikan materi pembelajaran dan juga tugas dan juga tes ujian online pada masing-masing mata pelajaran yang diampu. Sedangkan para siswa bisa mengakses aplikasi e-learning tersebut untuk mengunduh materi pelajaran juga mengerjekan tugas dan tes ujian yang ada pada portal tersebut. Pengaksesan yang sangat mudah bagi para awam yang belum paham bagaimana cara menggunakan portal e-learning. Ini dimaksudkan agar dan para guru bisa menjalankan peran mereka masing-masing dengan mudah dan nyaman, agar para murid juga bisa dengan mudah memahami materi pembelajaran tanpa adanya terkendala apapun demi menciptakan kreatifitas dan juga daya saing yang sebelumnya ada pada diri siswa. Tapi tak menutup kemungkinan banyak siswa yang lain susah untuk beradaptasi terhadap perubahan cara mereka belajar yang senantiasa praktek diluar lapangan sekarang menjadi pembelajaran secara teoritis saja.

Pemanfaatan teknologi guna memperlancar proses belajar mengajar secara daring (online) ini sejatinya memang memudahkan proses pembelajaran tersebut karena jika ingin melaksanakan pembelajaran secara tatap muka sangatlah tidak memungkinkan untuk waktu dan tempat. Tetapi seperti yang kita ketahui, dewasa ini masih banyak masyarakat kita yang tidak memiliki alat komunikasi canggih seperti handphone layar datar, sebagian masyarakat kita masih ada yang menggunakan handphone genggam yang hanya bisa digunakan untuk sms dan telepon saja. Juga untuk mengakses website tersebut juga diperlukan sinyal yang stabil, tetapi kenyataannya masih banyak daerah yang tidak terjangkau jaringan internet apalagi di daerah yang terpencil.

Sekolah kejuruan tentunya sangat lekat dengan pelaksanaan praktek lapangan guna mengasah mental dan kemampuan mereka, guna mempersiapkan mereka untuk terjun langsung dalam dunia kerja yang membutuhkan keahlian mereka. Mereka yang selama pelajaran lebih sering praktek lapangan, proses pembelajaran tiba-tiba berubah menjadi daring (online) tentunya perlu penyesuaian oleh murid dan para guru. Tentunya hal itu menjadi penghalang dalam melatih kemampuan mereka, juga mempersulit guru dalam mengawasi tingkah laku dan juga pola belajar siswa.

Yang saya bahas dari tadi hanya seputaran kelemahan pembelajaran daring (online) saja saya kira, kali ini kita bahas dulu kelebihan dari kegiatan belajar mengajar secara daring (online) bagi siswa dan guru di sekolah kejuruan. Pertama, waktu dan tempat belajar yang bebas. Siswa dapat mengikuti pembelajaran dimanapun dan kapanpun asal sinyal internet yang terjangkau. Pemanfataan waktu dan tempat yang bebas, tanpa adanya kita perlu ke sekolah dan berangkat sekolah pukul 07.00 pagi, yang seringkali para siswa dan guru datang terlambat ke sekolah. Ini menjadikan mereka yang notaben seringkali terlambat datang ke sekolah, tak perlu lagi untuk bangun pagi dan berangkat ke sekolah.

Kedua, pembelajaran tidak hanya mendengarkan ceramah dari sang guru, namun siswa diharapkan lebih mandiri dalam mencari materi pembelajaran di ranah internet. Para siswa juga bisa melakukan riset mereka sendiri di laman internet. Ini bisa menjadi salah satu kegunaan dari website yang digunakan SMK NU Rogojampi. Kemandirian siswa dilatih ketika mereka dihadapkan pada masalah yang mereka bisa atasi sendiri dengan mencari laman yang bisa diakses demi memudahkan proses belajar daring (online) mereka. Otomatis mereka juga bisa mempelajari lebih lanjut bagaimana cara menguasai teknologi informasi yang terus saja berkembang, agar mereka juga tidak gaptek. Teknologi saat ini sedang berkembang-berkembangnya mengikuti perkembangan zaman demi memuaskan hasrat manusia akan hidup mudah. Tentu tidak asik bukan jika kita sebagai anak muda millennial tidak mengerti bagaimana cara yang tepat dalam memanfaatkan perkembangan zaman ini khususnya dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.

Terakhir, seperti yang kita ketahui bahwa banyak sekali kejahatan internet saat ini jika kita tidak pandai memilah informasi mana yang ingin kita akses demi mendapatkan informasi. Juga dalam penggunaan media komunikasi seperti handphone yang lebih banyak digunakan oleh siswa untuk sekedar bermain game sahaja, atau digunakan hanya untuk berselancar dalam dunia maya. Pembelajaran secara daring ini memungkinkan bagi siswa untuk lebih meminimalisir waktu yang mereka habiskan hanya untuk bermain game atau bermain sosial media, berubah menjadi untuk belajar secara online. Mau tidak mau, suka tidak suka, waktu mereka yang mereka gunakan untuk bermain sosial media berubah menjadi untuk sekedar mendengarkan sesi belajar dan juga untuk mengerjakan soal latihan yang ada pada website sekolah mereka.

Setiap hal pasti mempunyai kelebihan maupun kekurangannya masing-masing. Contohnya saja pada web hosting yang digunakan di SMK NU Rogojampi, portal e-learning yang menggunakan moodle sebagai media pembelajaran daring (online) tentunya juga ada kekurangan dan kelebihan seperti yang telah saya jelaskan di atas. Tidak menutup kemungkinan setiap media pembelajaran yang digunakan tidak memiliki kelemahan dibaliknya, tetapi kelemahan itu tidak seharusnya dijadikan acuan untuk tidak menggunakannya bukan?

Pembelajaran daring (online) bagi sekolah kejuruan tentulah memerlukan waktu yang cukup panjang guna menyesuaikan dengan kebiasaan pembelajaran praktek mereka, pembelajaran teoritis tentu asing bagi para murid dan juga para guru. Tetapi seiring berjalannya waktu mungkin saja pembelajaran praktek bagi sekolah kejuruan akan segera terlaksana kembali.