Laporan Bacaan 2 (Magang 1)
Oleh: Khovivah (11901284)
Mahasiswi PAI 4B IAIN Pontianak
Laporan bacaan saya pada minggu ini membahas mengenai Kultur Sekolah. Bacaan saya mengenai Kultur Sekolah ini saya dapatkan dari salah satu artikel, (kalian bisa mengakses artikel tersebut pada link inihttps://scholar.google.com/citations?user=ANnQmJMAAAAJ&hl=id&oi=sra). Kata kunci yang terkait pada artikel ini ialah mengenai pendidikan, budaya dan kultur sekolah. Penulis dari artikel yang saya baca bernama Ariefa Efianingrum.
Maka dari itu saya akan mengulas mengenai isi dan bahasan yang ada dalam artikel ini, mari kita bahas seksama.
Diawali dengan membahas mengenai perubahan sosial masyarakat yang menjadi salah satu alasan terjadinya perkembangan pendidikan. Perkembangan pendidikan sejatinya menjadi salah satu penunjang akan kebangkitan suatu bangsa atau negara. Pendidikan merupakan kegiatan kemuliaan dengan mencerdaskan anak bangsa, yang sesuai dengan konsep Tamansiswa yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara.
Sekolah yang dipercaya sebagai institusi pengembangan potensi kecerdasan anak, memiliki tanggung jawab yang berat sekaligus tantangan yang berat dalam mengemban tugas tersebut. Dalam rancangan membangun pendidikan di sekolah, terdapat dua wacana besar, yaitu:
“Wacana pertama adalah academic achievement discourses (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana dominan yang lebih menekankan pada proses restrukturisasi (meliputi: deregulasi, desentralisasi, perubahan kurikulum, dan pelatihan). Sedangkan wacana yang kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi (terkait dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran mind-sets)”
(Suyata, 2000).
Pada pernyataan ini menekankan bahwa proses peningkatan pendidikan lebih hanya menekankan pada proses restrukturisasi tidaklah lagi memadai, dikarenakan adanya keyakinan bahwa sistem sosial dan sistem budaya yang menjadi kunci keberhasilan dalam proses peningkatan pendidikan.
Yang menjadi kunci keberhasilan peningkatan pendidikan di masa ini adalah sistem sosial dan sistem budaya dalam masyarakat, itulah yang menjadi kata kunci atau yang sedang dibahas dalam artikel ini. Faktor peningkatan ataupun ketertinggalan taraf kehidupan dan pendidikan ini bukanlah berasal dari luar masyarakat, melainkan dari masyarakat itu sendiri, apakah ia akan memilih untuk maju dan meningkatkan atau ketertinggalan taraf kehidupan dan pendidikan mereka sendiri.
Faktor internal dalam masyarakat itu tidak lain dan tidak bukan adalah budaya. Berbagai para ahli memberikan pendefinisian mengenai budaya ini, salah satunya adalah Clifford Geertz, ia mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut.
“Deskripsi mendalam (thick description) dalam menjelaskan jalan hidup masyarakat (the way of life of a society) yang meliputi: nilai, praktik, simbol, institusi, dan relasi sosial. Kebudayaan juga diartikan sebagai referensi bersama yang memungkinkan bahwa tingkah laku anggota suatu kelompok sosial dapat dipahami, diramalkan, dan diterima oleh anggota lainnya”
(Harrison & Huntington, 2000)
Kebudayaan dalam keterlaksanaan dalam pembelajaran seringkali disalah pahami hanya untuk pembangunan ekonomi saja. Belum banyak yang memahami bagaimana mengembangkan konteks budaya dalam arti yang luas. Kebudayaan memiliki kekuatan konstitutif dalam memainkan perannya dalam hal tranformasi. Kebudayaan juga memiliki kekuatan reflektif dalam melakukan legitimasi sosial (Kleden, 1988). Hal tersebut juga berlaku dalam hal persekolahan (schooling).
Persekolahan juga mendapat perhatian dari para ahli, salah satunya yaitu Deal & Peterson (2011), mereka mendefinisikan kultur juga penting dalam konteks sekolah yang tersaji dalam literatur “Shaping School Culture” sebagai berikut.
“While policymakers and reformers are pressing for new structures and more rational assessments, it is important to remember that these changes cannot be successful without cultural support. School culture, in short, are key to school achievement and student learning”
(Deal & Peterson, 2011)
Definisi diatas dimaknai bahwa kultur sekolah dan pimpinan sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural di lingkungan sekolah. Kultur sekolah adalah faktor kunci keberhasilan dalam menentukan peningkatan akademik ataupun non-akademik para peserta didik.
Dalam kenyataan yang berkembang di masyarakat kini, peningkatan pendidikan selalulah dilaksanakan namun apa daya peningkatan tersebut tak terlalu membuahkan hasil yang memuaskan. Seperti yang dikemukakan oleh Deal & Peterson (2011) berikut ini.
”Too much emphasis has been given in reforming schools from the outside. through policy ad mandate. Too little attention has been paid to how schools can be shaped from within, as Roland Barth demonstrates. Teaching staff and administrators can lead the way to successful cultures where all students learn. It’s clearly time to reconsider and rethink the issue and importance of school culture in today’s educational environment”
(Deal & Peterson, 2011)
Mengenai pernyataan dari Deal & Peterson ini mengandung arti bahwa upaya perbaikan pendidikan saat ini hanyalah menekankan pada perbaikan eksternal saja seperti perubahan kebijakan pendidikan. Namun tak hela upaya perbaikan internal tidak dilaksanakan seperti merubah mindset warga sekolah. Sekolah memiliki tanggung jawab dalam memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik untuk peserta didiknya, tak ayal para guru dituntut yang melaksanakan tugas tersebut. Dalam hal ini yang menjadi perhatian dalam meningkatkan taraf pendidikan di sekolah adalah dengan meningkatkan kultur sekolah.
Mengenai pendefinisian tentang kultur sekolah, terdapat banyak ahli yang ikut menyumbangkan pemikiran mereka. Salah satunya adalah Deal & Peterson (2011), pernyataan mereka sebagai berikut.
“School culture is the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that make up the persona of the school. These unwritten expectation build up over time as teachers, administrators, parents, and students work together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with failures, For examples, every school has a set of expectations about what can be discussed at staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how willing the staff is to change, and the importance of staff development. School culture is also the way they think their schools and deal with the culture in which they work”
(Deal & Peterson, 2011)
Budaya sekolah merupakan gabungan norma-norma, nilai-nilai kehidupan dan keyakinan, ritual dan upacara, kiasan dan cerita dalam lingkungan sekolah. Pada pernyataan diatas tertulis harapan untuk membangun sekolah dari kerja sama para guru, administrator, orang siswa dan juga para siswa itu sendiri dalam memecahkan persoalan yang ada, menghadapi rintangan, dan juga mengatasi kegagalan bersama. Sekolah tentunya memiliki banyak harapan dalam membangun atau meningkatkan kualitas sekolah. Budaya sekolah merupakan cara berpikir tentang sekolah dan juga urusan kebudayaan di mana mereka bekerja.
Dijelaskan dalam literatur sosiologi pendidikan bahwa budaya sekolah bermakna: a complex set of beliefs, values and traditions, ways of thinking and behaving, yang bermakna bahwa: seperangkat keyakinan, nilai dan tradisi yang kompleks, tentang cara berpikir dan berperilaku (Vembriarto, 1993).
Sekolah berperan sebagai wadah atau media dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi selanjutnya, yang tentu saja dalam penyampaian tersebut mengikuti perkembangan zaman dan juga perkembangan masyarakat itu sendiri. Namun kadang kala di dalam lingkungan sekolah itu sendiri terbentuk pola kelakuan tersendiri. Kebudayaan sekolah juga terkait dengan bagian dari kebudayaan masyarakat luas juga, tetapi kebudayaan sekolah memiliki ciri khusus tersendiri yakni sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, 1999).
Itulah penjelasan terkait dengan pembahasan kultur sekolah secara umum. Semakin canggihnya teknologi tentunya pendidikan juga harus meningkatkan daya saing atau peningkatan mutu pendidikan, salah satunya dengan menaikkan atau meningkatkan mutu sekolah yang menjadi wadah atau media dalam penyampaian informasi pendidikan. Tak ayal peningkatan mutu pendidikan tak dibarengi dengan perubahan mindset para peserta didik maupun pendidik. Tentu hal itu kurang memuaskan jika hanya intelektual saja yang dikembangkan, tetapi budaya sekolah tidak.
Selanjutnya akan dibahas mengenai implikasi kultur sekolah terhadap perbaikan sekolah. Mari kita bahas.
Mengutip dari Deal & Peterson (2011) yang mendeskripsikan mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berdampak terhadap fungsi sekolah:
Visi dan Nilai (Vision and Values)
Pendefinisian mengenai visi ini mengutip dari 2 pendapat ahli, yakni pertama Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) mendefinisikan visi sebagai berikut: “Vision as an ideal and unique image of the future”. Sedangkan Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”.
Dari kedua pernyataan ahli diatas dapat disimpulkan bahwa visi adalah penyusunan konsep yang ideal dan unik untuk menata masa depan. Sedangkan nilai dalam artian umum didefinisikan sebagai "A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which influence the selection from available modes, means, and ends of action”(Kluckhohn dalam Enz, 1986).
Nilai bukan lagi hanya sekedar sebuah opsi ataupun alternatif, melainkan merupakan sebuah integrasi, perasaan dan integrasi.
Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)
Upacara, tradisi dan perayaan bisa dijadikan sebagai ajang pendekatan informal bagi warga sekolah yang relevan dengan budaya.
Sejarah dan Cerita (History and Stories)
Sejarah dan cerita masa lalu dapat membangkitkan jiwa kebudayaan.
Arsitektur dan Artefak (Architecture and
Artifacts)
Sekolah tentunya memiliki lambang/logo sekolah, lagu mars sekolah, yang bisa dijadikan acuan dalam mengembangkan budaya dalam dunia sekolah. Juga bisa memanfaatkan lahan pada area sekolah, seperti Majalah Dinding (Mading), atau website sekolah.
Guru juga bisa mendorong kreativitas dan imajinasi para peserta didik dengan menggunakan budaya, dan lain hal sebagainya yang sebenarnya bisa ditumbuhkan dalam jiwa warga sekolah melalui budaya sekolah.
Kultur sekolah bukan hanya terbatas pada kultur di sekolah, melainkan bisa dijadikan sebagai keunikan tersendiri bagi sekolah. Kultur sekolah tak hanya dapat mengembangkan prestasi akademik peserta didik saja, atau hanya prestasi non-akademik saja, namun juga bisa untuk mengembangkan potensi yang lebih luas, dan akan dibahas secara rinci dibawah ini.
Prestasi Akademik
Tentunya prestasi akademik lebih mencolok dari hal lainnya, karena orang tua siswa rata-rata mementingkan prestasi akademik anaknya.
Prestasi non-akademik
Prestasi non-akademik yang dapat dikembangkan dengan unsur kultur sekolah adalah bagian kesenian, atau olahraga, dan lainnya. Nilai-nilai kreatifitas dan demokrasi juga bisa dikembangkan, karena kepintaran para peserta didik itu bervariasi, tentuny prestasi non-akademik demi menunjang para peserta didik di masa depan.
Karakter
Pembentukan karakter yang baik saat ini tentulah sangat penting. Penanaman nilai moral yang baik pada peserta didik dari lingkungan yang baik akan menjadikan moral dan karakter peserta didik juga akan baik.
Kelestarian Lingkungan Hidup
Dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar tentunya akan sangat nyaman jika lingkungan belajar juga nyaman. Kelestarian lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab semua warga sekolah agar menjadikan lingkungan yang nyaman, aman dan damai.
Setiap sekolah tentunya memiliki kultur sekolah yang khas yang sesuai dengan potensi yang dimiliki yang dapat mencirikan sekolah tersebut. Kultur sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi peserta didik.